Browsing articles in "Inspirasi"

Kerja Kantoran Sambil Berwiraswasta

Jan 15, 2013   //   by admin   //   Inspirasi  //  Comments Off on Kerja Kantoran Sambil Berwiraswasta

Sosok Mbak Tia

Mbak Tia (33th) adalah seorang pegawai tata usaha di sebuah Sekolah di Kecamatan Lawang. Pekerjaan rutinnya dimulai sejak pukul 06.30 WIB sampai pukul 14.00 WIB, normal seperti pegawai pada umumnya. Namun yang membedakannya adalah jiwa enterpreneur yang ada dalam diri Mbak Tia. Pemikiraannya tentang pentingnya berwiraswasta, telah mengantarkannya menjadi pribadi yang selalu bekerja keras. Tidak mau terpancang hanya pada satu jenis pekerjaan saja.

Ia pun bekerja sebagai distributor produk makanan, minuman kesehatan alami, produk MLM, persewaan baju dan rias. Semua itu dilakukan oleh Ibu dari Nurullaily Setia Putri dan Aqilah Nur Sabrina ini karena ia beranggapan bahwa semua yang ada di hadapannya adalah peluang, sayang jika disia-siakan. Penghasilan yang didapatkan dari keberanian mengambil peluang ini tidak sedikit.

Perjalanan berwiraswasta Mbak Tia ternyata telah dimulai sejak bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan di tahun 1994. Ketika itu sekolah mewajibkan setiap siswanya untuk mempunyai usaha, dan dipilihlah usaha penjualan jamu kemasan, yang kala itu belum banyak dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Malang. Dari situlah awal tumbuhnya jiwa enterpreneurship Mbak Tia.

Menurut Mbak Tia keberhasilan berwiraswasta bergantung pada manajemen waktu yang baik. Ia berupaya mengatur waktu yang benar, sehingga tidak mengganggu waktu dan pekerjaannya sebagai seorang pegawai. Untuk menyiasati keterbatasan waktu ia mencoba melakukan penjualan secara online dan memberikan pelayanan yang optimal bagi para pelanggan.

Mbak Tia bukan hanya menjadi pegawai dan berwiraswasta saja, namun juga berperan sebagai Ibu Rumah Tangga dan aktif dalam kegiatan berorganisasi. Tidak hanya ikut Tahlil di perkumpulan ibu-ibu Jl. Pendowo gg. Eko Karya Lawang, namun juga ikut aktif dalam PKK, Anggota POKJA serta Kader Khusus PPKBD Lawang. Tidak sulit jika kita melakukan dengan manajemen waktu yang baik. Apalagi dengan prinsip yang saya jalankan, yaitu DUIT: Doa, Usaha, Ikhtiar dan Tawakal. Insya Allah semua bisa dilakukan. Karena saya yakin semua diberikan oleh Allah, dan kita umatNya, tinggal berusaha saja.

Asmina dan Syukur: Buah Manis Sebuah Kesederhanaan

Dec 29, 2012   //   by admin   //   Inspirasi  //  Comments Off on Asmina dan Syukur: Buah Manis Sebuah Kesederhanaan

Asmina

Pasangan Asmina (23) dan Syukur (27) mengawali kesuksesannya dengan bekerja ikut orang lain yaitu sebagai kuli batako. Mbak Asmina dan Mas Syukur dikarunia seorang putri yang bernama Bela (4). Sungguh putri yang lucu dan cantik.

Dengan kondisi keuangan yang tak menentu dan demi masa depan putrinya, mbak Asmina pun mengikutkan Bela ke tabungan Si Pintar. Dengan ikut tabungan Si Pintar ia berharap ketika Bela sekolah nanti, ia tidak terlalu susah untuk mencarikan biaya sekolah. Mbak Asmina dan Mas Syukur melewatkan hari-harinya dengan penuh rasa syukur, tak terbesit sedikipun kesedihan atau kecemasan di wajah mereka. Hingga suatu saat ada keinginan di hati Mas Syukur untuk berkembang lebih baik lagi.

Berbekal semua ilmu dan keahlian yang ia dapatkan di tempatnya bekerja dulu, dan akhirnya ia pun mencoba untuk melangkah maju. Dari sebuah lahan kosong yang ditawarkan padanya oleh saudara Mbak Asmina akhirnya merekapun memberanikan diri untuk meminjam modal. Inilah awal mula mbak Asmina merasakan kemudahan pelayanan ketersediaan modal bersama dengan CU Sawiran. Memang tidak segampang perkiraan semua keuntungan bisa diraih begitu mudah, tetapi dengan usaha yang keras dan doa semua itu bisa di capai. Begitupun yang dialami Mbak Asmina dan Mas Syukur mereka mengawali usaha batako dengan penuh kesabaran.

Dengan dibantu beberapa tenaga kerja, pembuatan batako awalnya masih memakai cara lama dengan hasil produksi yang didapatkan juga tidak terlalu banyak dan juga dikarenakan keterbatasan tenaga kerja. Dari waktu ke waktu permintaan batako semakin meningkat. Banyak konsumen yang menyukai hasil produksi mas Syukur karena kualitas batako lebih kuat dari yang lain. Karena tidak ingin melewatkan kesempatan dan rejeki yang ada, dengan segala keterbatasan tenaga dan modal mereka pun meminjam kembali modal ke CU Sawiran yang akan mereka gunakan untuk membeli mesin pembuat batako dan sebuah mobil pick up untuk transportasi dan pengangkutan. Sungguh dengan semangat dan kerja keras serta doa, akhirnya usaha batako semakin berkembang. Dari permintaan yang hanya di sekitar Nongkojajar, akhirnya bisa sampai merambah ke Tosari dan Ngadisari hingga sampai ke Malang. Dan terakhir usaha bengkel las pun dapat mereka capai. Sungguh perjuangan hidup yang sangat keras, tetapi sanggup mereka jalani dengan sabar dan sederhana.

Suatu teladan yang patut dicontoh, dengan kesederhanaan mereka jalani hidup. Tidak ada keinginan yang berlebih muncul dari benak mereka. Rasa syukur atas rejeki dan kesehatan yang baik sudah cukup bagi mereka. Mereka tidak ingin berharap yang berlebihan, semua harus di sesuaikan dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Keinginan untuk maju masih bergelora, tetapi mereka tidak ingin gegabah dalam melangkah. Syukuri apa yang ada, disertai dengan doa niscaya kesuksesan akan mengikuti. Terima kasih Mbak Asmina dan Mas Syukur, satu teladan telah kami dapatkan, sangat menginspirasi. Semoga apa yang kita perbincangkan bisa menjadi teladan dan contoh yang baik bagi teman-teman anggota yang lain.

Ibu Siti Suwarni dan Bapak Miftakhul Khoir: Komitmen bagi Pelanggan

Dec 29, 2012   //   by admin   //   Inspirasi  //  Comments Off on Ibu Siti Suwarni dan Bapak Miftakhul Khoir: Komitmen bagi Pelanggan

Sebuah perjalan panjang dalam meniti karir telah dialami oleh pasangan Siti Suwarni, 31th dan Miftakhul Khoir, 32th. Pasangan yang berdomisili di Jl. Gajayana 634 Malang ini, memilih berjualan bumbu dan keperluan dapur lain di Pasar Besar Batu sejak tahun 2005. Namun, kesuksesan yang diraih saat ini tidak diraih dengan cara instan. Berawal dari berjualan penyedap rasa di Daerah Mergan, Pujon dan Batu tahun 2002, kemudian dilanjutkan dengan menjual bumbu dapur yang dikemas ulang dan dipasarkan secara grosir. Omset yang awalnya kecil telah berkembang pesat hingga saat ini.

Melihat peluang yang lebih besar di Pasar Besar Batu, pada tahun 2005 Ibu dari Galih Anggaputra dan Muhammad Fauzan memutuskan untuk membuka toko di Pasar Besar Batu. Pada umumnya ketika sudah membuka usaha yang menetap, banyak orang mengubah orientasi pemasarannya. Namun tidak demikian dengan pasangan ini. Ketika masih freelance produk penyedap rasa, marketing dan distribusi barang dilakukan sendiri kepada pelanggan. Sampai saat ini pun, pemasaran dan distribusi barang masih dilakukan sendiri kepada pelanggan. Komitmen dan pelayanan maksimal kepada pelanggan adalah hal yang utama. Dan sampai kapanpun akan demikian. Walau saya sudah mempunyai karyawan, mereka hanya saya beri tugas mengemas dan dilakukan di rumah. Namun untuk relasi kepada pelanggan, saya sendiri yang melakukan, tegas Ibu Siti. Ternyata bukan hanya komitmen dan pelayanan yang maksimal kepada anggota saja yang membuat usaha semakin besar, namun pengelolaan keuangan yang baik, juga menjadi salah satu kuncinya. Setiap usaha yang dilakukan oleh pasangan suami istri, sebaiknya yang mengatur keuangan hanya salah satunya. Jika dilakukan oleh keduanya, saya rasa itu tidak akan berhasil.

Pasti banyak pemikiran yang berbeda mengenai pengelolaan keuangannya. Karena itu kami, memutuskan salah satu dari kami untuk memegang keuangannya. Dan mungkin bisa dilihat usaha kami bisa seperti ini sambung Bapak Khoir. Di akhir wawancara, Ibu Siti yang di Pasar Besar Batu mempunyai panggilan spesial Ibu Siti Micin menuturkan bahwa dalam berusaha dalam bentuk apapun yang harus dipegang adalah kejujuran serta kedisiplinan. Dengan kejujuran serta kedisiplinan pengembangan usaha menjadi lebih mudah.

Bapak Suleman: Yang Penting adalah Pelayanan

Dec 29, 2012   //   by admin   //   Inspirasi  //  Comments Off on Bapak Suleman: Yang Penting adalah Pelayanan

Bapak Suleman adalah anggota CU Sawiran TP Blimbing yang mempunyai usaha penjualan tahu khas Banyuwangi. Suami dari Ibu Anik Suhartini ini, memulai usaha berdagang tahu Banyuwangi sejak beberapa tahun yang lalu. Dimulai dari berjualan sendiri di daerah sekitar Sawojajar Malang. Saat ini Bapak Suleman telah mempunyai puluhan karyawan yang memasarkan tahu khas Banyuwangi ini mulai daerah Batu sampai Kepanjen. Kesuksesan usaha ini tidak instant, melainkan dengan jerih payah dan semangat juang yang tinggi. Berbagai jenis pekerjaan telah dilakoni, sebelum berdagang tahu khas Banyuwangi ini. Mulai dari berjualan es krim sampai menjadi penampung barang bekas. Ketika ada peluang berjualan tahu khas Banyuwangi yang lebih prospektif, tidak segan-segan bapak Sulaeman mencoba untuk mengambil peluang ini. Semua pekerjaan saya lakukan, tetapi ketika ada peluang usaha yang lebih baik, akan saya ambil peluang itu, tambah Bapak Suleman.

Hakikat pelaku usaha adalah mencari keuntungan yang sebesar besarnya. Namun tidak demikian dengan prinsip usaha Bapak Suleman. Ia lebih mengedepankan pelayanan dan harga yang murah bagi customer yang dilayani. Kelancaran usaha adalah kuncinya, maka omzet dan penghasilanpun juga akan mengikuti, demikian yang dikatakan oleh Bapak Suleman. Prinsip usaha yang dimiliki ini, yang akhirnya membuat usaha penjualan tahu ini berkembang cepat. Sebagai salah satu langkah konkret untuk menjaga loyalitas customer, Bapak Suleman tidak segan segan untuk melihat pasar yang dilayani. Melihat kualitas pelayanan sampai mengecek harga pun dijalankan. Ini dimaksudkan agar kualitas pelayanan dan harga jual di pasar sebanding dengan keinginan customer. Namun, tidak hanya pelayanan yang maksimal dan harga murah saja yang bisa meningkatkan usaha Bapak Suleman. Pengelolaan keuangan yang baik, dengan merancang skala prioritas anggaran menjadi hal besar yang berpengaruh dalam pengembangan usaha. Saya tidak akan pernah cemas dalam mengelola keuangan, karena ada rekan-rekan dari CU sawiran yang siap membantu saya, sambung Bapak Suleman. Semoga pengalaman Bapak Suleman menginspirasi kita semua.

Bapak Tarkuat: Berkah di Balik Bencana

Dec 29, 2012   //   by admin   //   Inspirasi  //  Comments Off on Bapak Tarkuat: Berkah di Balik Bencana

Segala hal yang berasal dari Tuhan selalu baik adanya. Anugerah maupun bencana selalu membawa suatu kebaikan bagi umat manusia. Pemikiran demikian yang menjiwai Bapak Tarkuat, seorang petani warga Dusun 02 Wonotoro Kec. Sukapura Probolinggo ini. Bencana erupsi Gunung Bromo selama 9 bulan yang lalu, tidak menghalangi niat ayah dari Nastiti dan Satriya ini untuk selalu bersyukur atas apa yang diterimanya. Pemikiran sederhana untuk selalu bersyukur dan berusaha, menjadi suatu kekuatan untuk menikmati segala anugerah yang berasal dari Allah, pahit maupun manis. Di saat tanah pertanian tidak bisa ditanami untuk tiga musim pun, tidak mengurangi niat Bapak Tarkuat untuk selalu berharap dalam bertani. Mengolah tanah tetap dilakukan setiap hari untuk mendapatkan kesuburan maksimal di balik pasir erupsi Gunung Bromo.

Buah syukur dan kerja keras Bpk Tarkuat akhirnya sungguh dirasakan. Pada musim tanam pertama, tanaman kentang dan kubis dapat tumbuh subur sesuai dengan yang diharapkan. Lahan yang dahulunya tertutup timbunan pasir erupsi telah berubah menjadi hijaunya tanaman kentang dan kubis. Lahan yang dulunya gersang menjadi lebih subur berkat erupsi. Di balik semua bencana selalu adaanugerah, kita harus selalu bersyukur dan bekerja keras. Karena saya yakin, hadirnya bencana hanya singkat saja. Namun kehidupan di depan jauh lebih panjang kata Bpk. Tarkuat mengingatkan kita sebagai manusia untuk selalu bersyukur. Makna hidup manusia pun akan tergambar jelas disini, bahwa kita hanyalah ciptaanNya. Semua sudah di atur, dan rencana indahpun pasti yang akan kita dapatkan.

Jam Operasional

Jam Pelayanan

Senin - Jumat

:

07.30 - 16.00

Sabtu

:

07.30 - 13.00

Jam Kas

Senin - Jumat

:

08.00 - 14.00

Sabtu

:

08.00 - 12.00

CS Online

Jajak Pendapat

Bagaimana Pelayanan yang di berikan CU Sawiran?

View Results

Loading ... Loading ...